Kabupaten Muna di Sulawesi Tenggara menyimpan kekayaan sumber daya pangan yang luar biasa beragam, mulai dari padi khas Muna (pae wuna), jagung (kahitela), hingga berbagai jenis umbi-umbian seperti ubi kayu (mafua sau), ubi jalar (medawa), dan ubi talas (tonea. Kekayaan ini menjadi fondasi penting bagi upaya optimalisasi pangan lokal daerah dalam mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat. 

Universitas Karya Persada Muna (UKPM) , melalui program studi Promosi Kesehatan dan berbagai kegiatan akademiknya, hadir sebagai motor penggerak dalam mengangkat potensi pangan lokal ke ranah yang lebih terencana dan berbasis ilmiah . Dalam berbagai seminar gizi yang diselenggarakan, UKPM secara konsisten mengangkat isu strategis ini sebagai wujud nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Optimalisasi sumber daya pangan setempat tidak hanya menjadi agenda akademik, tetapi juga langkah konkret mewujudkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.


Kekayaan Pangan Lokal Muna sebagai Modal Dasar

Masyarakat Muna memiliki sistem pertanian etnik yang kaya akan kearifan lokal, yang tercermin dalam berbagai istilah dan praktik turun-temurun . Penelitian etnolinguistik mengungkap bahwa fase-fase dalam siklus pertanian masyarakat Muna—mulai dari pembukaan lahan, pembersihan, pemagaran, penanaman, hingga pasca-panen—merupakan kombinasi antara praktik budaya dan pengetahuan lokal yang kompleks . Istilah-istilah seperti detobhe (panen padi), detongka (panen jagung), debuna (panen ubi kayu dan kacang tanah), serta deseli (panen ubi jalar dan talas) menunjukkan betapa eratnya hubungan antara bahasa, budaya, dan sistem pangan masyarakat setempat .

Lebih dari sekadar aktivitas produksi, sistem pertanian etnik Muna mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan yang sangat relevan dengan tantangan pangan modern. Proses pasca-panen seperti detoto (memotong ruas jagung untuk memilah kualitas), dekolusi (membuka kulit jagung), dan debhensi (membuka kulit ubi kayu) mencerminkan pemahaman mendalam akan nilai nutrisi dan pentingnya menyimpan cadangan pangan untuk musim paceklik . Praktik desoria—menyimpan jagung berkualitas baik di tempat khusus di sudut rumah, dapur, atau loteng—menunjukkan sistem manajemen pangan tradisional yang cerdas dan berkelanjutan . Pengetahuan lokal inilah yang menjadi modal dasar bagi upaya optimalisasi pangan lokal di Muna.


Peran Strategis Universitas Karya Persada Muna dalam Pengembangan Pangan Lokal

Universitas Karya Persada Muna telah menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pengembangan pangan lokal melalui berbagai program dan kolaborasi. Salah satu bukti konkret adalah keterlibatan UKPM dalam inisiasi Lumbung Pangan Desa Banggai, Kecamatan Duruka, Kabupaten Muna . Lumbung pangan ini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan hasil pertanian, tetapi juga berkembang menjadi pusat wisata kuliner yang menampilkan aneka olahan makanan tradisional khas Muna serta masakan dari berbagai daerah di Indonesia . Kepala Desa Banggai, La Ode Upa, mengungkapkan bahwa Desa Banggai telah menjalin Nota Kesepahaman (MoU) sebagai desa binaan UKPM, yang menjadikan lumbung pangan ini sebagai motor penggerak keberlangsungan kearifan lokal di bidang kuliner .

Peran UKPM tidak berhenti pada aspek pengembangan ekonomi. Melalui program studi Promosi Kesehatan, kampus ini secara aktif mengintegrasikan isu pangan lokal ke dalam kurikulum dan kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan bakti sosial di bulan Ramadhan yang dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi Lisna, S.K.M., M.Kes., menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap ketahanan pangan masyarakat kurang mampu di Desa Liangkabori . Pendiri UKPM, Ns. Albert, S.Kep., S.E., M.M.Kes., menekankan bahwa kegiatan ini berkaitan erat dengan kepedulian sosial dan realita kehidupan masyarakat saat ini . Hal ini menunjukkan bahwa optimalisasi pangan lokal di UKPM tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga diimplementasikan dalam aksi nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.


Seminar Gizi dan Penguatan Literasi Pangan Lokal

Seminar gizi yang diselenggarakan UKPM menjadi wadah strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan—akademisi, praktisi kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat—dalam membahas optimalisasi pangan lokal. Kegiatan ini sejalan dengan semangat nasional untuk mendorong penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal, sebagaimana diamanatkan dalam Perpres No.81 Tahun 2024 . Badan Pangan Nasional (Bapanas) sendiri telah menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang besar bagi pemanfaatan keragaman bahan pangan lokal Indonesia, dan setiap daerah diharapkan mampu mengenali serta mengoptimalkan potensi yang dimilikinya .

Kehadiran UKPM dalam ekosistem pangan lokal Muna menjadi semakin penting mengingat kebutuhan akan literasi gizi yang berbasis pada kearifan lokal. Program-program seperti edukasi keamanan pangan dan gizi seimbang yang dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan interaktif sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat . Dengan mengangkat tema optimalisasi pangan lokal dalam seminar gizi, UKPM berkontribusi dalam membangun kesadaran bahwa pemenuhan gizi tidak harus bergantung pada pangan impor atau makanan ultra-proses, tetapi dapat bersumber dari kekayaan alam sekitar yang dikelola dengan baik .

Baca Juga: Seminar Gizi Universitas Karya Persada Muna Angkat Potensi Pangan Lokal Daerah


Strategi Optimalisasi Pangan Lokal untuk Ketahanan Gizi

Optimalisasi pangan lokal daerah memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Berdasarkan berbagai pengalaman dan praktik baik, beberapa strategi kunci yang dapat diimplementasikan di Kabupaten Muna antara lain:

Pertama, penguatan identifikasi dan dokumentasi potensi pangan lokal. Penelitian etnolinguistik tentang sistem pertanian etnik Muna telah mengungkapkan kekayaan pengetahuan lokal yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan . Pemetaan sumber daya pangan—mulai dari jenis, musim panen, kandungan gizi, hingga potensi pengolahan—menjadi langkah awal yang krusial. Pemerintah daerah dan perguruan tinggi seperti UKPM dapat berkolaborasi dalam upaya ini.

Kedua, pengembangan produk olahan berbasis pangan lokal yang bernilai tambah. Berbagai pelatihan pengolahan pangan lokal yang telah dilakukan di Kabupaten Muna—seperti pembuatan selai kaya, keripik singkong, teh kelor, pempek dan bakso dari ikan Lajang—menunjukkan bahwa potensi ini dapat dikembangkan lebih luas . Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Muna menekankan pentingnya mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai jual agar daerah tidak hanya dikenal sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga produk-produk olahan yang kompetitif .

Ketiga, integrasi pangan lokal ke dalam program-program ketahanan pangan dan gizi nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah memberikan peluang emas bagi pemanfaatan pangan lokal secara masif . Badan Gizi Nasional (BGN) telah memastikan bahwa menu MBG akan disesuaikan dengan potensi pangan lokal di setiap daerah, mulai dari ikan tongkol di Maluku, sagu di Papua, hingga jagung di Nusa Tenggara Timur . Kabupaten Muna, dengan kekayaan jagung, ubi kayu, dan berbagai sumber protein lokalnya, memiliki posisi strategis untuk menjadi bagian dari rantai pasok program ini.

Keempat, penguatan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang pengolahan pangan. Rumah BUMN PLN Muna telah melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi UMKM mitra binaan untuk menghasilkan produk olahan yang memenuhi standar makanan bergizi, sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam penyediaan produk pangan lokal untuk program MBG . Langkah ini menjadi contoh bahwa optimalisasi pangan lokal harus disertai dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal.

Kelima, pengintegrasian edukasi gizi berbasis pangan lokal ke dalam kurikulum sekolah dan program kesehatan masyarakat. Edukasi interaktif melalui metode edutainment yang dilakukan di SMAN 1 Raha menunjukkan bahwa siswa lebih mudah memahami konsep gizi dan keamanan pangan jika disampaikan dengan cara yang menarik dan relevan dengan keseharian mereka . Dengan memperkenalkan pangan lokal sejak dini, generasi muda akan tumbuh dengan kebanggaan terhadap kekayaan sumber daya daerahnya dan terbiasa mengonsumsi pangan yang sehat serta berkelanjutan.


Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun potensi pangan lokal Muna sangat besar, optimalisasinya tidak terlepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan akses pasar, rendahnya pengetahuan tentang pengolahan dan pengemasan, serta preferensi konsumen yang masih cenderung pada pangan impor menjadi beberapa kendala yang perlu diatasi . Selain itu, perubahan iklim dan alih fungsi lahan juga mengancam keberlanjutan sistem pertanian tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Namun, peluang yang terbuka jauh lebih besar. Dukungan kebijakan dari pemerintah pusat melalui program MBG dan penguatan pangan lokal menjadi katalis penting . Peran perguruan tinggi seperti UKPM dalam riset, pengabdian masyarakat, dan penyelenggaraan seminar gizi menjadi jembatan antara pengetahuan akademis dan praktik di lapangan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengubah tantangan menjadi peluang yang nyata.


Kesimpulan

Optimalisasi pangan lokal daerah di Kabupaten Muna bukan sekadar agenda teknis, melainkan gerakan strategis yang menyentuh aspek budaya, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Kekayaan sistem pertanian etnik Muna—dengan segala kearifan lokal yang terkandung di dalamnya—merupakan modal dasar yang sangat berharga Universitas Karya Persada Muna, melalui peran aktifnya dalam berbagai seminar gizi, program pengabdian, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, menunjukkan komitmen kuat untuk mewujudkan ketahanan pangan berbasis potensi setempat.